Picetures of The Week

Setahun Bermimpi

Setahun Bermimpi

Make a dream together - Setahun Gunung Mimpi

Setahun Bermimpi

Evon baca puisi Khalil Gibran - Setahun Gunung Mimpi

Setahun Bermimpi

Nicko Manuhua persembahkan lagu "Mama" untuk Setahun Gunung Mimpi

Setahun bermimpi

Kado Ulang Tahun untuk Anak-Anak Gunung Mimpi

Monday, February 18, 2013

Pantun-Pantun dari Gunung Mimpi



Naik-naik ke gunung kramat
Banyak longsor di kiri kanan
Biar hidup kadang seng slamat
Banyak orang tetap bertahan

Apalah merah di tanjung Allang
Ikan bulana bermain ombak
Apalah merah di pipi nona
Itulah tanda ciuman beta

Satu kapal dari pulau deli
Sarat muatan kuda piara
Beta ini anak Kayeli
Di lautan beta juara

Kartu as kartu simpati
Simpan akang di dalam lemari
Bukan beta jadi simpati
Tapi tagal ale beta kemari

Hari ini kutanam sereh
Esok dan lusa kutanam kangkung
Hari ini kita bercerai
Esok dan lusa kita berkumpul

Malam minggu ke lorong hantu
Banyak setan dan suster ngesot
Biar hidup seng ada yang bantu
Mari tetap meraih esok

Apalah putih di tanjung sial
Ikan bubara bermain ombak
Apalah putih di konde si dia
Ampas kelapa kusangka bunga

Jalan-jalan ke surabaya
Jangan lupa pake kabaya
Biar mati di makan buaya
Yang penting dapat Siti Nurbaya

Jalan-jalan ke gunung botak
Jangan lupa membawa karung
Kalo berbuat seng pake otak
Datang kemari katong bertarung


Satu malam beta bermimpi
Bertemu Thomas Matulessy
Beta ini anak gunung mimpi
Jiwa emas, semangat api


Selamat berpantun!
 
(Koleksi Edo Pauno, Kelvin Sahusiwa, dan Novren Ditubun)

Saturday, February 9, 2013

Mimpi Kecil

Mimpi yang terwujud hampir sama rasanya dengan berhasil mendaki gunung. Lega yang tak terkatakan. Kemarin, 8 Februari 2013, satu mimpi kecil kami wujudkan: 'rumah belajar.'
Sejak lama kami memimpikan punya tempat khusus untuk berkumpul, membaca buku, belajar bersama, suatu tempat untuk meletakkan buku-buku dengan layak. Sekarang kami lega dan semakin bersemangat.
Sejak pukul empat sore, kakak-kakak dari berbagai komunitas berdatangan satu persatu. Jalan menanjak munuju Gunung Mimpi berhasil mereka taklukkan sekali pun ada juga yang nyaris tersesat.
Kak Youlee dan Kak Indam menuju puncak Gunung Mimpi (foto: @djulie_ts)
Senja di Teluk Ambon hari itu sungguh menawan. Semua sudah berkumpul, orang tua kami juga tidak ketinggalan. Kami siap untuk memulai pesta kecil merayakan dan mensyukuri satu mimpi kecil yang terwujud.
Evon dan Given memandu acara. Kami diajak bernyanyi dan bernyanyi. "Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang," kemudian "Naik-naik ke Gunung Mimpi," yang diadaptasi dari lagu "Naik-naik ke Gunung Nona."
Laut dan sore (foto: @wslly)
Kepada kakak-kakak dan semua orang tua yang hadir, Given dan Evon menceritakan kerja keras dibalik terwujudnya mimpi kecil ini. Mereka juga menyampaikan rasa terima kasih kepada semua orang yang sudah membantu kami mewujudkan mimpi kecil ini.
Desember tahun kemarin kami diajak untuk merayakan natal bersama dengan Ikatan Wanita Bank Ambon (IWABA) di Aula Bank Indonesia, Ambon. Kami juga merayakan natal bersama-sama dengan kakak-kakak "Achiles 09" (Fakultas Kedokteran Unpatti) di Gedung Serbaguna Panti Werdha Ina Kaka, Passo. Mereka telah membantu kami untuk mewujudkan mimpi kecil ini. Oh, terima kasih untuk natal yang sungguh menyenangkan dan, tentu saja, kelinci paskah yang lucu.
Membangun (foto: @wslly)
 Kurang lebih satu bulan Bapa Boma Johannes meluangkan waktu dan segenap tenaganya untuk membangun rumah balajar kami ini hingga selesai. Beliau tidak meminta bayaran sepeser pun. Terima kasih banyak untuk semua orang tua yang turut membantu kami dalam banyak cara.
Tentu saja rak buku kami akan kosong tanpa buku-buku yang sudah beberapa kali dikirimkan oleh Taman Bacaan Anak Lebah. Pengetahuan yang tiada ternilai dalam buku-buku itu kini telah menemukan tempat yang layak. Terima kasih banyak untuk semua kebaikan ini. Salam hangat dari kami untuk Kak Vera Makki dan semua kakak, Pejuang Lebah Books. 
Rak buku baru (foto: Talsea)
Cerita Evon dan Given ditutup lagu "Laskar Pelangi" yang dinyanyikan oleh semua anak-anak Gunung Mimpi. Sukacita ini berlanjut dalam syukur yang dinyanyikan oleh Eby dan Angel. Sebuah lagu yang mengingatkan kami akan besar kasih dan setia Allah dan doa bersama semua orang yang hadir.
Siap-siap untuk menyanyi (foto: @IerNha_LTC)
Kakak Arie Rumihin juga bernyanyi dan menghibur kami semua. Senang sekali.

Melangkah memasuki "rumah belajar" kami pun menyanyikan "We shall Overcome," lagu setahun lalu diajarkan oleh Kakak Shuresj Tomaluweng. Brinet, Juliet, dan adik-adik kami yang masih kecil, merekalah yang membuka pintu dan yang pertama kali masuk ke dalam Rumah Belajar diikuti semua orang dan kami pun menandai momen istimewa itu dengan membaca buku bersama-sama.
Sore itu semua orang membaca buku. Ada banyak hal menarik yang ditemukan dan bersama-sama dibagikan.
"Dokter Zero, dia meciptakan sesuatu yang baru. Jadi, adik-adik juga bisa menciptakan hal yang baru," ucap kakak Dalenz, penyanyi reggae itu kepada kami.
"Buku yang saya baca berjudul English. Dari buku ini kita dapat belajar bahasa Inggris dan menambah kosakata," begitu kata Astria, kawan kami.
Baca buku yuuk! (foto: Talsea)
"Kezia dalam kelemahannya membuktikan bahwa dia mampu, maka adik-adik juga bisa jika berusaha," begitu kata kakak Lely sesudah membaca buku  berjudul Kezia: cahaya kecil dalam kegelapan.
Membaca buku berjudul Di Lautan, 'Opa' Rudi Fofid membagikan kesannya. "Gambar-gambar dalam buku ini memberi inspirasi. Teks-teksnya pendek sehingga bisa dibaca dengan cepat. Buku ini dibikin untuk anak-anak kota yang tinggal jauh dari laut. Buku kita adalah alam di sekitar kita."
Begitulah hari istimewa itu kami rayakan. Sesudah itu ada banyak sekali ada banyak obrolan ringan, sukun goreng, sambal, teh manis, kopi, dan kakak-kakak masih terus datang.

Kami sangka perayaan ini sudah berakhir, tetapi kakak Ronal datang dan bercerita tentang Mirah Mini. Kami mendengarkan cerita yang amat bagus, buku cerita yang juga disertai lukisan-lukisan bagus yang ditunjukkan kakak Theisar kepada kami. Oh iya, mereka memberikan buku-buku itu kepada kami. Sudah kami simpan di rak buku.
Terima kasih kepada Kakak Maestro untuk petikan gitar yang menemani kami bernyanyi. Terima kasih untuk semua yang sudah datang dan semua yang bersama dari jauh.  Mimpi memang bisa menjadi kenyataan!

Sunday, March 4, 2012

Setahun Bermimpi

"A man is not old until regrets take the place of dreams"

- John Barrymore


Sekalipun usia Komunitas Gunung Mimpi bertambah, tapi kami tidak akan pernah menjadi tua sebab kami selalu punya mimpi, dan mimpi itu lebih merupakan perjuangan tanpa akhir, satu proses panjang seumur dunia. Belajar, beraksi, dan berkreasi. Membangun diri, masyarakat, dan memelihara alam.

Setahun sudah kami jalani bersama-sama dalam berbagai aktivitas di Gunung Mimpi. Tahun lalu, tepatnya 3 Maret 2011 komunitas ini terbentuk. Sejak saat itu kami, para pelajar, di Gunung Mimpi selalu berkumpul dan belajar, berkreasi, juga melakukan aksi-aksi cinta kepada alam.

Gembira sekali rasanya, seperti ulang tahun sendiri. Kegembiraan itu kami ekspresikan dalam aksi-aksi yang bermanfaat bagi kami dan orang-orang sekitar kami. Aksi yang kami sebut dengan nama "Aksi Sore" itu semula bernama aksi pagi, namun karena waktu pagi kami harus ke sekolah maka dipindahkanlah aksi tersebut pada sore hari. 

Dalam aksi ini kami mendatangi setiap rumah di Gunung Mimpi dan menawarkan jasa untuk membersihkan halaman sekitar rumah agar bersih dan sehat. Aksi ini kami lakukan dua hari sebelum hari ulang tahun komunitas.

Sehari sebelumnya sudah kami lakukan berbagai persiapan untuk acara ulang tahun komunitas nanti. Ada kawan-kawan yang mempersiapkan spontanitas, ada yang menggubah lagu, dan ada pula yang berlatih baca puisi dan menyanyi.

Perayaan ulang tahun komunitas pun berlangsung dalam kesederhanaan dan kegembiraan. Dalam ibadah yang kami lakukan, Om Ade Uneputty mengajak kami bersyukur dan menyemangati kami untuk terus berusaha menggapai mimpi-mimpi kami. Kami juga tidak lupa mendoakan semua orang yang sudah membantu dalam berbagai macam cara, semua orang yang selalu memberi senyum, motivasi, dan semangat untuk bermimpi dan berani mewujudkannya.

Lagu-lagu dan puisi-puisi kami persembahkan dan sukacita kian bertambah-tambah. Delisqy, Piter, Jefry, dan Jansen menyanyikan lagu dalam langgam Ambon, Evon dan kakak Weslly membaca puisi, Delivia, William, dan Intan menyanyikan lagu yang secara khusus mereka adaptasikan untuk ulang tahun komunitas. 

Usai ibadah masih ada pembacaan puisi dari karya-karya yang sudah dipublikasi di blog ini. Sungguh hari yang bahagia dan memberi banyak semangat. Kegembiraan itulah yang membuat perayaan ini berlangsung sampai pukul tiga dini hari.

Terima kasih banyak untuk mama, papa, om, tante, dan kakak-kakak yang sudah datang dan bersyukur bersama kami di hari yang bahagia. Salam manis dan terima kasih untuk Kakak Benhard, kakak Arie, kakak Temy, kakak Noel, kakak Ronny, dan kakak Ino yang membantu mempersiapkan berbagai hal untuk mendukung lancarnya perayaan ulang tahun komunitas Gunung Mimpi. Semoga mimpi-mimpi  kakak sekalian tercapai.

Sunday, February 5, 2012

Belajar dari Minggu Kemarin


Sejak pukul enam sore kawan-kawan sudah datang dan berkumpul. Hari ini, Sabtu, 04 Januari 2012, kami akan beraktivitas dalam kegiatan yang kami rancang sendiri. Malam ini untuk kedua kalinya kami mengatur diri sendiri. Ini soal tanggung jawab.

Belajar dari minggu lalu, kawan kami yang mengorganisir acara dibikin pusing dengan tingkah kawan-kawan lain yang susah diatur, maka malam ini kami mulai memperbaiki hal-hal yang tidak seharusnya dan mempersiapkan acara dengan baik agar kemungkinan-kemungkinan seperti perdebatan yang panjang lebar dan saling menyalahkan tidak terjadi lagi.

Delisqy, Barrachiel, dan Jefry yang mengatur kegiatan malam minggu kemarin. Mereka mengajak kami membentuk lingkaran dan bernyanyi bersama sambil sesekali melontarkan pertanyaan tentang pengetahuan umum. Kegembiraan tergambar di wajah kawan-kawan yang hadir malam itu. Kami pun diajak untuk belajar bersama tentang bagaimana kesalahan penyampaian pesan dapat menimbulkan pertengkaran. Hal itu dikemas dalam permainan seru yang digagas oleh Delisqy, Barrachiel, dan Jefry.

Sekitar pukul sembilan, malam mulai sunyi. Kami masih tenggelam dalam permainan cerdas cermat yang mereka bawakan. Saat semua selesai, kami masih sempat berekreasi. Dua sampai tiga permainan kami ikuti dengan kegembiraan.

Menutup kegiatan itu, Delisqy meminta kesediaan kawan-kawan yang lain untuk mempersiapkan acara untuk minggu berikutnya. Setelah semua siap, Intan pun berdoa dan kami berpisah menuju rumah masing-masing.

Kegiatan yang kami atur sendiri, jadi semakin baik. Walau masih terdapat kekurangan di sana-sini. Kami belajar dari pengalaman minggu kemarin. Karena ulah kami, kawan-kawan yang memandu acara jadi sakit hati. Kali ini kami mulai belajar menghargai kawan-kawan yang memimpin dan semua jadi lebih lancar. Pengalaman memang sekolah paling baik, namun mahal sekali harganya.

Wednesday, February 1, 2012

Buku Untuk Masa Depan Anak


Kemarin, 31 Januari 2012, Gunung Mimpi menerima kiriman buku yang kedua dari Taman Bacaan Anak Lebah (@lebahbooks). Satu paket buku dan berbagai peralatan belajar lain yang dikirimkan dari Jakarta. Kakak kami, Weslly, pergi mengambil kiriman tersebut dan membawanya ke Gunung Mimpi.

Kami tidak langsung membukanya hari itu. Kami bersepakat untuk membuka kiriman tersebut keesokan harinya. Tepat hari Rabu, waktu untuk kami berkumpul dan belajar bersama-sama. 

Sore cerah saat semua kakak dan kawan sudah berkumpul untuk mulai belajar. Kami pun berdoa bersama-sama, mensyukuri berkat Tuhan yang kami terima melalui Kak Vera Makki dan semua kakak di Taman Bacaan Anak Lebah. 


Kami ingin cepat-cepat melihat isi kiriman itu. Tak sabar rasanya! Dengan bantuan kakak Weslly, kami bersama-sama membuka kiriman itu. Ada banyak buku bacaan bergambar warna-warni, ada profil Taman Bacaan Anak Lebah dan profil Kak Vera Makki, dan peralatan belajar lainnya.

Kami menyempatkan diri untuk membaca profil Taman Bacaan Anak Lebah juga profil kak Vera. Di sana kami menemukan banyak hal yang luar biasa. Mulai dari keinginan kak Vera agar semua anak dapat menikmati buku dan memiliki masa depan yang cerah, sampai misi Taman Bacaan Anak Lebah untuk terus menyediakan buku bagi anak-anak di Timur Indonesia.


Kami mengingat masa awal di mana kami baru mulai belajar bersama. Buku-buku memang sedikit, kami hanya punya buku pelajaran yang disediakan sekolah. Itu pun tidak semua kawan yang memiliki. Melihat keadaan sekarang, di mana sudah ada banyak buku untuk kami baca setiap hari, kami bersyukur dan berterima kasih. 

Kami juga teringat kawan-kawan kami yang jauh. Mereka mungkin belum menikmati apa yang kami nikmati sekarang. Oleh karena itu, kami berdoa semoga Tuhan memberkahi misi mulia yang diemban oleh Taman Bacaan Anak Lebah agar kawan-kawan yang lain juga bisa menikmati buku dan memiliki masa depan yang cerah.


Kami juga berdoa semoga semakin banyak orang yang mau bergabung dan bahu-membahu dalam pekerjaan baik yang sudah dipelopori Kak Vera dan Taman Bacaan Anak Lebah, agar semua anak Indonesia menjadi anak yang cerdas dan bermoral.

Terima kasih banyak untuk kak Vera, kak Viona, dan semua orang di Lebah Books yang sudah menjadi 'terang' bagi kami dan Anak-anak di Timur Indonesia.

Saturday, October 15, 2011

Kelelahan menjadi Senyuman

Oleh Wirol Haurissa

Sore hari begitu sayup, saatnya matahari terbenam dan waktu tenang untuk belajar bersama adik-adik. Saya dan Mario Nussy bergegas ke Gunung Mimpi, tak disangka saat pertengahan jalan kami berdua bertemu dua orang kakak.

Ternyata mereka berdua bernama Wilza Parera dan Valen Anakotta. Kami bercakap-cakap, sesaat kemudian Wilza dan Valen mengikuti saya dan Mario, menuju Gunung Mimpi.

Kami berempat mulai melangkah namun tiba-tiba muncul pertanyaan keingintahuan dari mereka berdua “di mana Gunung Mimpi itu”.

Pertanyaan itu mulai terjawab ketika kami sampai di Amahusu. Tepatnya di tikungan jalan, maka pertanyaan mereka berdua mulai terjawab. Sekitar pukul 17.33 WIT kami berempat bertemu dengan adik-adik. Respon yang baik, sapaan hangat lewat kata-kata dan ekspresi adik-adik memadang kakak Wilza dan Valen.

Sambil berpandangan, adik-adik bersalaman dengan kakak baru mereka. Saya tak begitu lama memandangi mereka karena adik-adik yang lainnya sedang bersih-bersih sekitar tanjakan jalan rumah adik Titi menuju Gunung Mimpi. Itulah wujud dari aktivitas mereka mencintai alam.

Kami berempat tanpa berlama-lama, mengajak adik-adik untuk belajar. Walau mereka terlihat lelah dan seorang kakak menyarankan untuk belajar besok namun adik-adik Gunung Mimpi tak mau. Sungguh mengagumkan ketika keinginan mereka untuk tetap melakukan aktivitas belajar tak bisa dihentikan.

Kedatangan kakak yang baru membuat keadaan semakin berwarna dan adik-adik pun bersemangat. Tanpa berlama-lama, kami semua menuju tempat belajar sambil tertawa dan gembira karena lelucon yang dibuat kakak Macho.

Sampai di tempat belajar, adik Geby berlari, bersuara keras dan memberikan salam kepada kakak-kakak yang baru. Keinginan keras dari adik-adik membuat kedua kakak, ikut bersemangat, walaupun kelihatan raut wajah dan tubuh yang tak kuat lagi dari Valen dan Wilza saat naik gunung.

Waktu terus berjalan seakan langit menjadi gelap namun keinginan adik-adik tak gelap seperti malam itu. Sambil menarik nafas dan perlahan mengatur detak jantung. Kami lalu belajar dengan adik-adik. Ramai rasanya kami semua berkumpul.

Kakak Wilza yang biasa dipanggil Icha, diminta oleh adik-adik untuk membawakan doa dengan bahasa inggris dan adik-adik mengikuti kakak Icha saat mengucapkan doa.

Kaka Icah mulai berdoa “Bapa Kami versi Bahasa Inggris”

Our Father which art in Heaven,
Hallowed be Thy Name.
Thy Kingdom come,
Thy Will be done,
On Earth, as it is in Heaven.
Give us this day our daily bread,
And forgive us our trespasses,
As we forgive those who trespass against us.
And lead us not into temptation,
But deliver us from evil.
For Thine is the kingdom, the power, and the glory,
Forever.
Amen.

Permulaan yang baik dari awal perkenalan. Kami belajar dan membuat tugas bersama. Adik Intan, Valy, Deriski, Eksel dan Edo mempunyai tugas Bahasa Inggris yang dikerjakan bersama-sama kakak Icha. Bertepatan dengan tugas bahasa inggris, adik Edo dan Intan juga belajar menggambar kerena pada keesokan harinya ada tes mulok.

Kami semua belajar bersama, sampai akhirnya kami harus berpisah. Perpisahan kami ditutup dengan doa oleh adik Valy. Sambil berpelukan membuat lingkaran kecil, kami berdoa bersama-sama. Kesan demi kesan menjadi penyembuh bagi hati dan penyejuk bagi semuanya.

Kakak Valen mengucapkan “banyak terima kasih kepada adik-adik gunung mimpi karena mereka telah memberikan pengalaman yang indah untuk hidup”.

Kakak Icha menulis perasaanya pada sehelai kertas “Gunung Mimpi, lelah, capek, sengsara karena naik gunung membuat saya pertama kali menginjak kaki di sini dan kelelahan menjadi hilang dalam sekejap karena melihat dan merasakan, betapa besarnya minat dan bakat yang dimiliki oleh adik-adik di sana.

Adik-adik yang mempunyai niat belajar membuat orang-orang yang tak peduli dengan pedidikan dan menyianyiakan keringat orang tua sangatlah banyak. Namun pada akhirnya saya mendapat jawaban bahwa belajar dan rasa ingin tahu sangat besar dari adik-adik Gunung Mimpi sampai memacu kaka Icha untuk menghargai pendidikan".

Adik-adik pun kembali ke rumah masing-masing. Saya, kakak Mario, kakak Icha dan kakak Valen turun gunung. Keceriaan ditambah banyak hal yang dipelajari saat itu, membuat kami tak bisa melupakannya begitu saja karena pertemuan kami penuh makna. Kami berempat melangkah penuh kebahagiaan yang menjadi bagian dari adik-adik.

Pdt Jacky, Kakak Uken, kakak Ronny, kakak Ino, kakak Noel yang jauh dan kakak yang lainnya. Salam dari adik-adik Gunung Mimpi untuk kalian semua. Buat kakak Icha dan kakak Valen terima kasih atas pelajaran hari ini dan perkenalan yang tak disangka menjadi indah. Terima kasih banyak bagi kakak-kakak yang menudukung dan mendoakan kami setiap saat.

BerSamPlas 17: Kami Sahabat

# BerSamPlas 17 | Henry Kdise #
Bertemu sejak tiga minggu berlalu, saya dan Mario Nussy sekitar pukul 13:03 menuju Gunung Mimpi, tepatnya di Amahusu. Kami berdua sampai di tempat tujuan dan besiap menaiki gunung.

Kehadiran kami tak disangka adik-adik Gunung Mimpi, dengan kaget kami berdua membuat mereka tersenyum. Rasa rindu dari adik-adik membuat kami, rasakan kebahagiaan, senang, gembira dengan suara teriakan memanggil kami. “Kaka Maryo, kaka Wirol”.

Kami berpelukan, duduk bersama. Saya dan Mario istirahat saat tiba di gunung. Hari yang menyentuh hati, kami semua bertemu dan berkumpul di tempat biasanya “rumah kaka Weslly Johannes”.

Sambil istirahat, kami siap turun gunung bersama adik-adik. Begitu semangatnya mereka langsung menyampaikan perasaan untuk BerSamPlas dan mengangkat pasir untuk membangun tempat belajar.

Perlengkapan telah disiapkan “karung dan kantong plastik”. Saatnya, kami turun gunung dan menuju Pasir Putih. Sebelum turun gunung, kegiatan kami mulai dari rumah masing-masing dengan mengangkat sampah disekitar lingkungan rumah.

Saat tiba di jalan kami lalu berdoa yang dibawakan oleh adik Edo. Selesai berdoa kami langsung melangkah sepanjang jalan sambil mengakat sampah plsatik. Cara kami adalah proses membentuk setiap karakter berlajar mencintai alam dan sesama.

 
Langit cerah merona, mengeringi perjalanan kami sampai tiba di pasir putih. Kami semua bekerja bersama-sama, membersikan pantai dan mengangkat pasir. tindakan kami membuat semuanya tampak gembira dan tanpa beban. Aktivitas yang dilakukan membuat kami menjadi sahabat, walau terkadang kami bermarahan satu dan lain namun untuk membangun tempat belajar, kami bergandengan tangan dan menghilangkan semua kemarahan.

Sambil mengakat pasir, kami bercerita dan membangun dinamika, menjaling hubungan kekerabatan. Cerita-cerita singkat saat berakhirnya BerSamPlas dan mengangkat pasir diungkapan oleh kakak Mario Nussy.

Sementara bercerita, kami melepaskan beban tanpa syarat. Angin yang berhembus sepoi-sepoi dan panasnya udara tak bisa menghilangkan semangat kami. Kecerian saya dan adik-adik mulai berdamai, kami membuat lingkaran dan berpegangan tangan sambil bernyanyi.

Selesai BerSamPlas, kami menaiki gunung dan menutup aktivitas saat itu dengan doa. “bukan untuk hari ini saja, tetapi untuk seterusnya, kami menjadi sahabat yang tak terpisahkan”.



Kesombongan, kemarahan hilang. Kami bergembira bersama-sama dengan Alam dan siapa saja. Kekompakan telah kami miliki dan menjadi kenangan kebersamaan yang laur biasa. Saya dan Mario berpisah dengan adik-adik dan aktivitas hari itu membawa kami pada satu tujuan yaitu sahabat. (5w1h)

Sunday, September 25, 2011

BerSamPlas 16: Satu Jam Saja



Tidak banyak yang berubah sejak minggu kemarin. Seperti biasa kami akan bersih-bersih sampah plastik lagi hari ini. Sambil menanti kedatangan kakak pembina, kami bermain di lapangan dekat tempat belajar kami di Gunung Mimpi. Satu jam hampir lewat sudah sejak jam 4 sore kami menunggu. 

Akhirnya, kakak pembina pun datang. Usai berdoa, kami pun segera mulai tanpa banyak bicara sebab matahari hampir tenggelam.Tidak banyak yang kami lakukan sore ini. Satu jam bukan waktu yang lama untuk berjalan memungut sampah di lingkungan sekitar Gunung Mimpi. Tapi satu hal baik yang kami pelajari yaitu kesetiaan untuk tetap melakukan kewajiban.

Hari ini kami berhasil mengumpulkan sampah plastik sebanyak 2 kantong. Ini kami sebut banyak karena memang sudah 3 kali kami membersihkan dan ternyata masih ada lagi. Itu berarti bahwa di lingkungan sekitar kami, masih ada orang yang tahu bahaya sampah plastik dan belum sadar untuk mengolah sampah agar tidak merusak lingkungan hidup.


Mari jaga lingkungan sekitar kita dengan tidak membuang sampah sembarangan. Salam manis dari kami semua di Gunung Mimpi!

BerSamPlas15: Bersihkan Tempat Belajar Baru

Sore cerah membawa kami berkumpul di tempat belajar. Kami pun berdoa bersama dan bersepakat. Kali ini, kami akan membentuk dua kelompok masing-masing tugas. Kelompok perempuan bertugas untuk memungut sampah plastik di daerah sekitar Gunung Mimpi, sedangkan kelompok laki-laki bertugas untuk membersihkan tempat belajar yang baru dan membuat selokan agar tidak terjadi genangan air di sekitar tempat belajar.

Kami mulai bekerja dalam kelompok masing-masing. Kawan-kawan perempuan berjalan memungut sampah di lingkungan sekitar. Ada juga kawan-kawan perempuan yang masuk ke dalam rumah keluarga-keluarga di sekitar tempat tinggal dan mengambil sampah yang sudah dikumpulkan untuk nanti kami buang ke tempat pembuangan sampah.

Kelompok laki-laki tidak kalah rajinnya. Ada yang mengali selokan dengan cangkul, ada yang mengangkut tanah galian dengan gerobak, semuanya bekerja dengan semangat dan keceriaan. Kawan-kawan yang laki-laki membuat selokan agar air yang mengalir sewaktu hujan tidak tergenang dan menjadi tempat nyamuk berkembang-biak.

Waktu berlalu dengan cepat seiring pekerjaan yang mulai selesai. Kami lalu beristirahat menikmati roti dan air putih yang sudah kami sediakan. Beberapa kawan-kawan bermain dan  yang lainnya bersendagurau. Lalu kami pun berdoa untuk mengakhiri kegiatan hari itu. Sekian dulu ya! 

Salam manis dari kami semua di Gunung Mimpi!

Wednesday, September 14, 2011

Pergi Untuk Kembali

Kemarin sore kami datang untuk belajar. Seperti biasanya kami membawa perlengkapan belajar lengkap. Buku tulis, pena, pensil, penghapus, buku pelajaran, dan sudah siap dengan tugas-tugas yang akan dikerjakan. Tetapi kami kaget karena hari ini kami harus beribadah. Kami lebih terkejut lagi karena ibadah ini adalah ibadah perpisahan dengan salah satu kakak pembina kami yang akan pergi melayani jemaat di Negeri Nolloth.

Alhasil, kami memutuskan untuk segera mempersiapkan sesuatu yang akan dipersembahkan untuk kakak kami, Kak Talsea Tamaela. Beberapa kawan kami tidak mengikuti ibadah karena harus mempersiapkan persembahan untuk kakak kami.

Saat ibadah yang diadakan di tempat belajar selesai dilakukan, maka kami pun bersiap-siap mempersembahkan lagu, pesan, dan pantun kepada Kak Talsea. Kami menyanyikan lagu “Pergi Untuk Kembali” sambil Evon menyampaikan pesan. Tanpa sadar kami menangis, semua menangis untuk waktu yang cukup lama.

Setelah itu ada pantun-pantun yang membuat kami tersenyum ceria. Novren, Jefry, Aksel, Edo, Mega, Evon, dan kawan-kawan membawa keceriaan dalam pantunnya. Kami pun mendengar pesan dari Kak Talsea. Kak Talsea bilang: “Tanggal 14 September tahun depan Kakak Ta sudah kembali. Satu tahun itu tidak lama. Kakak Ta yakin adik-adik semua akan terus bertambah besar, bertambah giat belajar, dan bertambah cantik dan keren. Tetap jadi orang-orang yang mencintai alam dan sesama supaya dunia ini damai”.

Setelah mendengar pesan dari Kakak Ta, kawan-kawan masih terus berbalas pantun dan semakin ceria. Kami pun mengucapkan selamat kepada Kakak Ta, kami semua memeluknya dan berdoa semoga Kakak Ta baik-baik saja dan kembali bertemu dengan kami di Gunung Mimpi.

Berikut salah satu pantun perpisahan yang Jefry sampaikan:

Kabaena gunung yang tinggi
Ombak di laut sama ratanya
Sungguh enak orang yang pergi
Kami yang tinggal apa rasanya

Seterusnya, foto bersama dooong! 

Demikian cerita sore kemarin. Salam manis dari kami semua di Gunung Mimpi.

Sunday, September 11, 2011

BerSamPlas 14: Di Gunung Mimpi

Sejak siang tadi suasana di beberapa titik di Kota Ambon dipenuhi massa. Ini jadi perhatian banyak orang termasuk kami di Gunung Mimpi. Tapi, kondisi itu tidak membatasi kami untuk tetap menunaikan tugas kami kepada bumi. Kami tetap BerSamPlas!

Sebelum mulai memungut sampah plastik, kami bersepakat untuk hari ini tidak turun ke jalan sebagaimana biasanya. Kami hanya akan bersih-bersih lingkungan di sekitar tempat tinggal kami di Gunung Mimpi karena tidak ingin membuat orang tua kami kuatir karena kondisi yang sementara terjadi di beberapa tempat di Kota Ambon. Kami pun berdoa bersama untuk kegiatan BerSamPlas kali ini. Tentu kami juga mendoakan kondisi Kota Ambon yang ricuh sejak siang tadi.

Usai berdoa, kami pun mulai berjalan dan memungut sampah plastik di sekitar rumah-rumah kami. Mulai dari rumah kawan kami Edo sampai rumah Evon dan Intan. Alhasil, sampah plastik yang terkumpul ada 7 kantong dan 2 karung.

Setelah itu kami pun beristirahat dan bermain bersama di tanah lapang yang semula dipersiapkan untuk membangun rumah. Kami bermain hingga pukul 05.30 sore tadi. Ada yang bermain “Asen”, ada juga yang bermain “Enggo Lari”.

Ada pesan dari kami untuk semua warga kota Ambon, “Jangan mudah terpengaruh kata orang, apa pun keadaannya kita semua tetap harus saling menyayangi.” Demikian cerita tentang BerSamPlas 14 sore tadi. Mari jaga Ambon supaya lebih manis lagi! Salam manis dari kami semua di Gunung Mimpi.

Monday, August 29, 2011

Surprise!

Hari ini ada kejutan yang menyenangkan. Kami dikunjungi secara tiba-tiba oleh Kak Della, Kak Jhe, Kak Ika, dan Kak Ray. Meski hari hujan, namun kakak-kakak ini berjuang untuk datang sendiri ke Gunung Mimpi untuk berbagi pengetahuan dengan kami.

Kami sementara bermain di rumah masing-masing. Vika dan Axel bermain bersama-sama di rumah Novren, sedang kawan-kawan yang lain bermain di luar rumah. Kakak kami memanggil kami dan memberitahukan bahwa ada kakak-kakak yang datang untuk berjumpa dengan kami. Akhirnya, permainan kami hentikan dan kami semua menuju tempat belajar.

# Jarimatika sebelum Belajar Bahasa Inggris #
Di sana, Kak Della, Kak Jhe, Kak Ika dan Kak Ray sedang menanti. Kami pun berkumpul dan bernyanyi bersama. Usai menyanyi bersama, kami pun berdoa dan memulai kegiatan belajar hari ini. Kami dibagi dalam dua kelas. Ada kelas Bahasa Inggris untuk kawan-kawan Sekolah Dasar dan Kelas Psikologi Remaja untuk kawan-kawan yang SMP. Kelas Bahasa Inggris diasuh oleh Kak Della dan Kak Jhe, sedangkan kelas Psikologi Remaja oleh Kak Ika dan Kak Ray.

# Kak Ika berikan Buku | Kak Ray with Kelas Psikologi Remaja #
Setelah belajar bersama, kami berencana untuk menonton film yang berjudul "Letters to God", tetapi kami terpaksa harus menontonnya tanpa Kak Ika, Kak Ray, Kak Della dan Kak Jhe. Mereka harus kembali pulang karena hari mulai gelap di luar sana. Sebelum pulang, Kak Ika memberi kami beberapa buah buku dan berpesan agar kami rajin membaca.

Terima kasih banyak untuk kakak-kakak yang sudah berkunjung ke Gunung Mimpi dan berbagi pengetahuan dengan kami semua di sini. Semoga sukses menggapai mimpi :)

#BerSamPlas 13: Tetap Asyik!

Hari Minggu tanggal 28 Agustus 2011, pukul 03.25 sore, kami berkumpul untuk kegiatan Bersih Sampah Plastik yang selalu kami lakukan. Kali ini untuk ke-13 kalinya kami akan pergi memungut sampah plastik sepanjang ruas jalan SMA Negeri 6 Ambon sampai ke daerah pantai sekitar Hotel Tirta Kencana.

Hanya sedikit saja kawan-kawan yang ikut. Kami hanya 14 orang ditambah dua orang kakak pembina dan seorang kakak kami yang sementara berkunjung ke Ambon. Kami berdoa bersama sebelum berkegiatan. Usai berdoa kami langsung membawa karung dan memungut sampah plastik.

Saat kami berjalan maju agak jauh, datanglah Givandro menyusul kami. Kami senang karena jumlah kawan yang hadir semakin bertambah. Kami terus berjalan maju dan betapa senangnya hati kami saat kawan kami Mario juga bergabung bersama kami. Belum habis rasa senang, datang pula Kak Tasha dan Kak Ghusye. Lengkaplah sudah kegembiaraan saat itu.
# Kak Titi & Livia, beres-beres sampah #

Setibanya kami di pantai, semua sampah yang terkumpul kami gabung dalam beberapa karung dan akhirnya terkumpullah 6 karung penuh sampah plastik ditambah lagi 2 kantong. Sekarang, saatnya bermain. Ada kawan-kawan yang bergantian membawa sepeda milik kawan kami, Mario. Ada juga yang membuat kolam di pinggir pantai, dan ada juga yang sekadar bermain di sepanjang talut di dekat pantai itu.

# Main "Benteng" #
Hari ini kami juga beroleh beberapa pemberian dari Kak Titi, beberapa buah buku yang akan kami taruh di #Sudut Baca. Setelah berkumpul untuk sekadar makan kue dan minum air, kami pun bermain lagi. Kali ini semua bergabung dan bermain "Benteng" bersama Kak Tasha dan Kak Ghusye. Kami bermain hingga hari mulai gelap, lalu berangkat pulang ke Gunung Mimpi.

Itulah sedikit cerita tentang #BerSamPlas 13. Terima kasih untuk kakak dan kawan semua yang sudah bersama-sama dengan kami. Sampai jumpa minggu depan!

Salam manis dari kami semua di Gunung Mimpi

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More