Saturday, February 9, 2013

Mimpi Kecil

Mimpi yang terwujud hampir sama rasanya dengan berhasil mendaki gunung. Lega yang tak terkatakan. Kemarin, 8 Februari 2013, satu mimpi kecil kami wujudkan: 'rumah belajar.'
Sejak lama kami memimpikan punya tempat khusus untuk berkumpul, membaca buku, belajar bersama, suatu tempat untuk meletakkan buku-buku dengan layak. Sekarang kami lega dan semakin bersemangat.
Sejak pukul empat sore, kakak-kakak dari berbagai komunitas berdatangan satu persatu. Jalan menanjak munuju Gunung Mimpi berhasil mereka taklukkan sekali pun ada juga yang nyaris tersesat.
Kak Youlee dan Kak Indam menuju puncak Gunung Mimpi (foto: @djulie_ts)
Senja di Teluk Ambon hari itu sungguh menawan. Semua sudah berkumpul, orang tua kami juga tidak ketinggalan. Kami siap untuk memulai pesta kecil merayakan dan mensyukuri satu mimpi kecil yang terwujud.
Evon dan Given memandu acara. Kami diajak bernyanyi dan bernyanyi. "Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang," kemudian "Naik-naik ke Gunung Mimpi," yang diadaptasi dari lagu "Naik-naik ke Gunung Nona."
Laut dan sore (foto: @wslly)
Kepada kakak-kakak dan semua orang tua yang hadir, Given dan Evon menceritakan kerja keras dibalik terwujudnya mimpi kecil ini. Mereka juga menyampaikan rasa terima kasih kepada semua orang yang sudah membantu kami mewujudkan mimpi kecil ini.
Desember tahun kemarin kami diajak untuk merayakan natal bersama dengan Ikatan Wanita Bank Ambon (IWABA) di Aula Bank Indonesia, Ambon. Kami juga merayakan natal bersama-sama dengan kakak-kakak "Achiles 09" (Fakultas Kedokteran Unpatti) di Gedung Serbaguna Panti Werdha Ina Kaka, Passo. Mereka telah membantu kami untuk mewujudkan mimpi kecil ini. Oh, terima kasih untuk natal yang sungguh menyenangkan dan, tentu saja, kelinci paskah yang lucu.
Membangun (foto: @wslly)
 Kurang lebih satu bulan Bapa Boma Johannes meluangkan waktu dan segenap tenaganya untuk membangun rumah balajar kami ini hingga selesai. Beliau tidak meminta bayaran sepeser pun. Terima kasih banyak untuk semua orang tua yang turut membantu kami dalam banyak cara.
Tentu saja rak buku kami akan kosong tanpa buku-buku yang sudah beberapa kali dikirimkan oleh Taman Bacaan Anak Lebah. Pengetahuan yang tiada ternilai dalam buku-buku itu kini telah menemukan tempat yang layak. Terima kasih banyak untuk semua kebaikan ini. Salam hangat dari kami untuk Kak Vera Makki dan semua kakak, Pejuang Lebah Books. 
Rak buku baru (foto: Talsea)
Cerita Evon dan Given ditutup lagu "Laskar Pelangi" yang dinyanyikan oleh semua anak-anak Gunung Mimpi. Sukacita ini berlanjut dalam syukur yang dinyanyikan oleh Eby dan Angel. Sebuah lagu yang mengingatkan kami akan besar kasih dan setia Allah dan doa bersama semua orang yang hadir.
Siap-siap untuk menyanyi (foto: @IerNha_LTC)
Kakak Arie Rumihin juga bernyanyi dan menghibur kami semua. Senang sekali.

Melangkah memasuki "rumah belajar" kami pun menyanyikan "We shall Overcome," lagu setahun lalu diajarkan oleh Kakak Shuresj Tomaluweng. Brinet, Juliet, dan adik-adik kami yang masih kecil, merekalah yang membuka pintu dan yang pertama kali masuk ke dalam Rumah Belajar diikuti semua orang dan kami pun menandai momen istimewa itu dengan membaca buku bersama-sama.
Sore itu semua orang membaca buku. Ada banyak hal menarik yang ditemukan dan bersama-sama dibagikan.
"Dokter Zero, dia meciptakan sesuatu yang baru. Jadi, adik-adik juga bisa menciptakan hal yang baru," ucap kakak Dalenz, penyanyi reggae itu kepada kami.
"Buku yang saya baca berjudul English. Dari buku ini kita dapat belajar bahasa Inggris dan menambah kosakata," begitu kata Astria, kawan kami.
Baca buku yuuk! (foto: Talsea)
"Kezia dalam kelemahannya membuktikan bahwa dia mampu, maka adik-adik juga bisa jika berusaha," begitu kata kakak Lely sesudah membaca buku  berjudul Kezia: cahaya kecil dalam kegelapan.
Membaca buku berjudul Di Lautan, 'Opa' Rudi Fofid membagikan kesannya. "Gambar-gambar dalam buku ini memberi inspirasi. Teks-teksnya pendek sehingga bisa dibaca dengan cepat. Buku ini dibikin untuk anak-anak kota yang tinggal jauh dari laut. Buku kita adalah alam di sekitar kita."
Begitulah hari istimewa itu kami rayakan. Sesudah itu ada banyak sekali ada banyak obrolan ringan, sukun goreng, sambal, teh manis, kopi, dan kakak-kakak masih terus datang.

Kami sangka perayaan ini sudah berakhir, tetapi kakak Ronal datang dan bercerita tentang Mirah Mini. Kami mendengarkan cerita yang amat bagus, buku cerita yang juga disertai lukisan-lukisan bagus yang ditunjukkan kakak Theisar kepada kami. Oh iya, mereka memberikan buku-buku itu kepada kami. Sudah kami simpan di rak buku.
Terima kasih kepada Kakak Maestro untuk petikan gitar yang menemani kami bernyanyi. Terima kasih untuk semua yang sudah datang dan semua yang bersama dari jauh.  Mimpi memang bisa menjadi kenyataan!

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More